Gadis Malang Yang Menunggu Sepi
Hari ini, aku sengaja menyiapkan 24 jam untuk memuaskan diri sendiri tanpa melakukan apa-apa. Ini adalah hari minggu, tandanya aku harus berlibur, berlibur ke suatu tempat yang membuat hatiku merasa nyaman meski setiap hari aku dipaksa beraktivitas sambil menunggu mati. Aku berjalan kaki bersama orang-orang asing yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Kebanyakan oranh yang ku lihat asik bermain dengan ponselnya. Aku berjalan menuju taman sendirian, tanpa melihat jalan. Hodie yang ku kenakan membungkus tubuhku yng kesepian, rok panjang dan sneakers tanpa kaos kaki ikut menghangatkan kakiku.
Taman Narmada ini sangat berbeda dari dulu. Anehnya, aku baru menyadari bahwa ada beberapa tanaman hias yang ditambahkan. Angin menggugurkan daun kuning, udara sejuk membuatku seketika menghikmati setiap tarikan napas yang dingin memenuhi sela paru-paru. Tempat ini sangat banyak dikunjungi oleh para pasangan muda mudi maupun yang sudah berkeluarga, karena tempat ini menurpakan tempat yang indah dan banyak sdkali sejarahnya. Hari minggu memang terasa sedikit berbeda, kendaraan jarang terlihat llu lalang, mungkin kebanyakan orang lebih memilih diam di rumah saja atau jalan-jalan di pantai dan mall bagi yanh kaya. Sedangkan yang pas-pasan seperti aku cukup jalan di taman aja sudah sangat istimewa. Seketika aku menebar pandangan dan menangkap beberapa orang duduk di bawah pohon sambil menggelar tikar.
Seketika pandanganku beralih ke seorang pria yang asik berswafoto di depan tembok pintu masuk taman. Aku tidak sengaja menatapnya dan ia melihat ke arahku dan tersenyum kepadaku, tapi aku tidak membalas senyumannya itu, aku lupa bagaimana caranya membalas senyuman. Aku takut senyumanku mengganggunya. Entah aku lupa kapan terakhir kali aku berkencan dengan seorang pria atau sengaja aku melupakannya? Entahlah, kesedihan membuat orang mudah melupakan sesuatu.
***
Bau rumput berdesekan dihidungku. Aku kembali menyisir sisi lain taman untuk mencari tempat yang sepi. Aku akan duduk di sana dan membiarkan cahaya matahari pelan-pelan merambat wajahku. Aku mempunyai 12 jam lagi untuk sendiri sambil melihat orang-orang sibuk bersandiwara. Kupu-kupu terbang ketika aku duduk di taman dan merasa paling piatu disana. Udara terasa sesak oleh keheningan di kepalaku, kesepian seperti tidak memliki jalan keluar, bahkan di tempat ramai seerti ini.
Aku masih memiliki banyak waktu untuk dilewatkan. Aku mengosongkan pikiran, ku buat perasaan mati sementara. Aku mencoba mengungat-ingat sesuatu, tetapi hari yang lalu sama saja dengan hari ini atau mungkin hari yang akan datang juga. Di bangku ini, aku teringat satu halsebuah cerita di sekitar tempat ini, konon katanya ada sebuah tempat yang dipercaya sebagai tempat yang paling sakral untuk beribadah, aku ingin beribadah disana dan berdoa agar harapanku bisa terwujud. Aku mulai mengosongkan pikiranku dan memikirkan masalalu pada waktu itu.
***
Seorang lelaki menghampiriku, ia duduk disampingku. Lelaki yang tadi tersenyum kepadaku, saat itu aku merasa bahagia ternyata seseorang yang tersenyum kepadaku menghampiriku. Ia sangat manis dengan gigi ginsul yang menghipnotis. Siapapun tak akan sanggup menatap lama-lama mata indah yang sempurna, sebab yang menatapnya pasti langsung jatuh hati.
Demikian, hari berganti begitu cepat dan aku dan dia semkin dekat hingga terlontarlah kata-kata cinta diantara kita. Hari, bulan dan tahun kita telah lalui dengan sangat yakin akan cinta. Kita berkencan, jalan-jalan, membunuh hari-hari yang sepi, bahkan merencanakan masa depan yang belum jelas ini. :)
Tak lama hari-hari lun berganti seperti ada kata-kata yang berat tersangkut di lelaki itu. Ragil, sesosok tampan tiba-tiba berkata kepadaku, mengabarkan tentang keergiannya ke luar daerah. Bahwa ia harus melanjutkan kuliahnya di sana. Ia harus seperti ayahnya yang memilki bisnis dimana-mana. Aku, seorang perempuan malang yang harus menanggung kesepian.
Sejak itulah aku selalu menunggu di taman, berharap ia datang menghampiri, menepuk pundak dadi belakang seperti dilakukannya dikala rindu yang sudah menggelora.
"Tidak lama kok, cuma 4 tahun" katanya terakhir kali di taman itu. 4 tahun tersa seperi seabad, siapa yang sanggup menanggung rindu selama itu?
"Tapi kamu pasti pulang setiap tahun, kan.?" tanyaku
"Agaknya tidak. Terlalu berat ongkosnya, aku ingin cepat-cepat lulus!"
***
Kesepian merambat, kesunyian mendengung di kepala. Nyatanya, tidak ada kabar dari lelaki itu hingga bertahun-tahun lamanya, hingga 4 tahun tak terasa hampir datang menjemput tubuh yang sepi. Ragil, kekasihku belum juga menampakkan wajahnya. Apabila Ragil benar-benar lupa kepadaku, apa yang harus ku lakukan? Aku berusaha menjaga cinta yang telah kita bangun sedemikian megah. Aku yakin, Ragil tidak akan pernah melupakanku. Barangkali ia sengaja ingin menguji kesetian dan rindi adalah ujian yang pling berat. Aku masih menanti di tamanini hingga batas waktu yang tak terhitung.
Matahari tergelincir ke arah barat. Beberapa orang telah meninggalkan taman. Keluarga yang menggelar tikar di bawah pohon itu sudah mulai pulang. Angin bertiup membawa aroma dijalan dan debu-debu. Udara pada siang hari membuatku ingin pergi. Namun, aku merasa malas sekali untuk meninggalkan bangku ini. Aku akan duduk sebentar lagi di bangku taman ini seperti seseorang yang sedang menunggu sepi. Kata orang-orang senja di taman ini sangat indah. Di depan sana matahari hampir tenggelam.
Cahaya senja berkilauan. Aku rasa, aku sudah menyaksikan senja ini berkali-kali. Ku duduk disini, sendirian, setiap hari minggu. Mataku sebak, dadaku bergemuruh dn matahari mulai perlahan-lahan tenggelam. Angin membelai hodie ku seolang menjemputku untuk segera pulang. Udara mulai dingin.
***
Sudah 4 tahun ku menunggu seseorang di taman ini. Rindu seudah berkarat. jika lembayung tipis itu telah pergi dan engkau belum kembali, itu tandanya kamu boleh untuk tidak mencintaiku lagi. Ragil.
Mataram, 10 Juni 2021.
Cerpen Gadis Malang Menunggu Sepi karya:
Baiq Almianunnisha Adh
Wow. Keren ceritanyaππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
BalasHapusMantap, ditunggu cerita selanjutnya
BalasHapusWedeeee
BalasHapusPagi+kopi+sebat+hikayat cinta = mantap jiwa
BalasHapusLuar biasa !! Semangat !!!
BalasHapus